Alek Bakajang di Nagari Gunuang Malintang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menjadi saksi bagaimana tradisi ratusan tahun tetap dijaga dengan penuh hormat. Perhelatan ini bukan sekadar pesta rakyat Idul Fitri, tetapi momentum silaturahmi yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat dari lima jorong di nagari tersebut.
Setiap tahun, Alek Bakajang digelar selama lima hari. Urutannya selalu sama: dimulai dari Jorong Koto Lamo sebagai tuan rumah, lalu berlanjut ke Batu Balah, Baliak Bukik, Koto Masjid, dan ditutup di Bencah Lumpur atau Baliak Bukik. Tradisi ini telah berlangsung sejak masa ketika transportasi utama masyarakat adalah perahu.
Perahu Kajang: Ikon Kreativitas dan Identitas Jorong
Lima perahu kajang tampil gagah di tepian Batang Mahat. Setiap perahu mewakili jorong berbeda dan memiliki ciri khas masing-masing. Ukurannya sekitar 15 meter dengan lebar 2 meter. Bahannya berupa gabungan dua sampan atau drum sebagai pelampung, kayu sebagai rangka, serta tripleks sebagai lapisan luar.
Perahu-perahu itu dicat putih, biru muda, atau kombinasi keduanya. Dindingnya dilubangi berbentuk persegi dan lingkaran, menyerupai jendela kapal. Beberapa di antaranya memiliki hiasan sekoci, jangkar, serta dekorasi menyerupai kapal pesiar. Ada pula yang dibuat bertingkat, menunjukkan kreativitas para pemuda setiap jorong.
Menariknya, sejak 1980-an, bentuk perahu kajang memang dibuat menyerupai kapal pesiar. Inovasi ini terinspirasi dari seorang warga yang pernah bekerja di kapal pesiar MS Costa Allegra. Kini, wujud modern perahu kajang menjadi simbol kreativitas dan kebanggaan masyarakat.
Parade Perahu Kajang di Batang Mahat: Hiburan yang Dinanti
Puncak perhatian warga terjadi ketika kelima perahu kajang berparade di Sungai Batang Mahat pada hari keempat Idul Fitri. Ratusan warga dari anak-anak hingga lansia berkumpul di tepian sungai. Ada yang menonton dari darat, ada pula yang berenang, bermain perahu karet, hingga hilir mudik dengan perahu tambang.
Setiap perahu membawa dua tamu undangan di geladaknya. Perahu bergerak dengan tarikan dan dorongan belasan pemuda. Parade ini bukan hanya tontonan, tetapi juga bagian dari penilaian terhadap kreasi perahu terbaik.
Silaturahmi Adat: Inti dari Alek Bakajang
Di balik kemeriahan parade, inti Alek Bakajang justru ada pada prosesi silaturahmi adat. Para datuak, bundo kanduang, alim ulama, pemuda, dan warga dari masing-masing jorong saling mengunjungi istano datuak tuan rumah.
Prosesi dimulai di Koto Lamo. Para datuak delegasi dari empat suku — Domo, Malayu, Pagacancang, dan Piliang — dijemput secara adat. Rombongan sungai menggunakan perahu kajang, sedangkan rombongan darat berjalan menuju Istano Datuak Bandaro.
Di dalam surau, mereka membahas kondisi nagari, anak kemenakan, serta persoalan setahun terakhir. Acara ditutup dengan hidangan juadah dan doa bersama sebelum dilanjutkan parade sore hari.
Alek Bakajang sebagai Penjaga Identitas Empat Suku
Empat jorong utama di Gunuang Malintang merupakan basis dari empat suku tertua.
- Koto Lamo: Suku Domo dipimpin Datuak Bandaro
- Batu Balah: Suku Malayu dipimpin Datuak Sati
- Baliak Bukik: Suku Pagacancang dipimpin Datuak Paduko Rajo
- Koto Masjid: Suku Piliang dipimpin Datuak Gindo Simarajo
Satu jorong lainnya, Bencah Lumpur, mewakili alim ulama dan pemerintahan nagari. Alek Bakajang memperkuat hubungan antarsuku ini dan memperkokoh persatuan nagari.
Peran Pemuda: Kreativitas, Kekompakan, dan Surau
Perahu kajang dibuat minimal satu pekan sebelum Idul Fitri. Pemuda jorong berkumpul di surau setiap sore dan selepas tarawih. Biaya pembuatan satu perahu bisa mencapai Rp 30 juta, berasal dari iuran pemuda serta dukungan nagari dan pemerintah.
Deng Putra, Ketua Pemuda Nagari, menegaskan bahwa alek ini mendekatkan pemuda dengan surau dan menumbuhkan kekompakan. Meski hasil kreasi perahu dinilai juri, panitia sengaja tidak memberikan hadiah agar persaingan tetap sehat.
Jejak Sejarah: Dari Transportasi Warga hingga Simbol Budaya
Ketua Kerapatan Adat Nagari, Jamri Datuak Pakomo, menyebut Alek Bakajang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dahulu, sungai adalah jalur utama warga. Perahu kajang digunakan untuk bepergian, mengangkut barang, hingga bersilaturahmi.
Setelah akses darat berkembang dan sungai dangkal, perahu tak lagi menjadi transportasi harian. Namun, tradisi tetap hidup sebagai simbol jati diri. Alek Bakajang menjadi ruang bagi pemuda berkarya, bagi ninik mamak bersilaturahmi, dan bagi masyarakat menjaga warisan leluhur.
Alek Bakajang: Tradisi yang Terus Dihidupkan
Meski zaman berubah, Alek Bakajang tidak kehilangan maknanya. Tradisi ini menyatukan masyarakat, memperkuat hubungan antarjorong, dan merayakan kreativitas generasi muda. Semua unsur nagari — ninik mamak, pemerintah, alim ulama, bundo kanduang, dan pemuda — bahu-membahu menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman.
Alek Bakajang bukan sekadar parade perahu. Ia adalah simbol identitas, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat Nagari Gunuang Malintang. Tradisi yang tak lekang oleh waktu.





